Bagi yang masuk ke blog ini melalui Search Engin dan tidak menemukan artikel yang di cari pada halaman ini maka dapat mencari pada arsip blog atau mengunakan fasilitas search yang ada di blog ini. terimakasih atas kunjungnnya.
bagi yang ingin bertanya sebaiknya langsng melalui YM apabila lagi online atau inggalkan coment di artikel yang bersangutan.

Promo : Transfer Pulsa Indosat (IM3/Mentari/StarOne) pulsa 100rb Harga 82rb (bisa untuk BB)

bagi yang berminat dapat hubungin YM : ivandriyandra atau sms ke no 085624060651. atau data update dapat liat di halaman ini http://indosat.yandra.web.id/

26 September 2008

Idul Adha dan Kewajiban Berkurban

Setiap tahun, ada dua hari raya bagi umat Islam yang diperingati dan dirayakan secara khusus, yakni Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha (Idul Kurban). Kedua hari raya itu memiliki makna tersendiri bagi seorang muslim. Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada tiap 1 Syawal dan Hari Raya Idul Adha tanggal 10 DDzulhijjah dari penanggalan Hijriyah.

Hari Raya Idul Fitri merupakan suatu manifestasi dari rasa gembira, setelah sebulan penuh menjalani latihan pengendalian diri dan perang melawan hawa nafsu. Sedangkan Hari Raya Idul Adha, adalah sebagai wujud dari keimanan dan ketakwaan, serta kepatuhan terhadap Sang Khaliq Allah SWT.

Insya Allah, Hari Raya Idul Adha tahun ini (10 Dzulhijjah 1428 H) bersamaan dengan tanggal 20 Desember 2007. Ada keistimewaan tersendiri dari Hari Raya Idul Adha, yakni waktunya bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Pada tanggal 10 Dzulhijjah para jemaah haji yang telah selesai wukuf di Arafah, mereka akan melontar Jumratul Aqabah di Mina.

Keistimewaan lain, ialah kewajiban menyembelih kurban selesai Shalat Idul Adha, atau pada hari-hari “Tasyriq”, yakni tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Kecuali itu, kaum muslimin juga dianjurkan untuk melantunkan takbir, tahlil dan tahmid mulai tanggal 10 sampai dengan tanggal 13 Dzulhijjah (empat hari termasuk hari-hari tasyriq). Kalau Idul Fitri kita hanya disuruh bertakbir, bertahlil dan bertahmid hanya sampai usai Shalat Id, maka pada Hari Raya Idul Adha kita melakukannya selama empat hari.

Kerelaan Berkurban

Menyikapi kondisi saudara-saudara kita yang tidak dapat merayakan Idul Adha seprti kita, maka Idul Adha tahun ini tentu akan memotivasi kita sebagai seorang muslim untuk rela berkurban. Sebab makna yang hakiki dari ibadah kurban yang diwajibkan kepada seorang muslim yang memiliki kemampuan, adalah “kerelaan berkurban”, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, serta Siti Hajar. Mereka rela berkurban demi kepatuhan dan ketaatannya kepada perintah Allah SWT.

Syari’at berkurban yang diturunkan Nabi Ibrahim AS kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya, memiliki makna dan hikmah yang besar bagi umat Islam. Diantaranya adalah, sebagai upaya pemersatu dalam persaudaraan, sebagai bukti kerelaan dan kesediaan diri untuk mengorbankan segala-galanya demi kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ibadah kurban juga akan menimbulkan kesadaran dalam pengorbanan materi, kesadaran akan pentingnya kesetiakawanan sosial, sebagai upaya menumbuhkan integritas sosial. Hikmah-hikmah tersebut tentu cukup relevan dan membantu saudara-saudara kita yang sekarang sedang ditimpa musibah. Coba kita renungkan firman Allah SWT yang artinya;

“Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan sembelihlah kurban...” [QS Al Kautsar 1-2]

Maksud firman Allah itu ialah untuk menyadarkan kita, bahwa sudah begitu banyak nikmat yang kita terima dari Allah SWT. Oleh sebab itu laksanakan (jangan tinggalkan) shalat, dan sembelihlah kurban. Artinya, kita diperintahkan untuk mensyukuri nikmat Allah dengan taat beribadah kepada-Nya, terutama ibadah shalat, dan rajinlah berkurban. Makna yang tersirat dalam berkurban itu, ialah berkurban (berinfak “fi sabilillah”), yaitu berinfak di jalan Allah, seperti menolong fakir-miskin, anak yatim, membantu orang yang sedang ditimpa musibah, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, bagi mereka yang telah memiliki kemampuan untuk menyembelih kurban, laksanakanlah perintah Allah itu. Yang belum memiliki kemampuan untuk menyembelih hewan kurban, mari kita sisihkan sedikit nikmat yang kita terima dari Allah SWT, untuk kita sumbangkan pula kepada mereka yang dalam kesusahan akibat bencana alam, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Merenungi Makna Haji Dan Qurban

Sebagaimana kita ketahui bahwa apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala pastilah mengandung makna, bukan hanya filsafat yang hampa apalagi sandiwara yang sia-sia. Dia akan membuahkan nilai-nilai yang berguna baik bagi pribadi dan masyarakat apabila dilaksanakan secara benar sesuai dengan tuntunan-Nya.

Marilah kita renungi makna yang terkandung dalam ibadah haji dan qurban ini.
Salah satu makna terbesar yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji adalah tentang persatuan dan kesatuan umat. Ajaran ini tercermin sejak orang yang melaksanakan ibadah haji memasuki miqat.
Di sini mereka harus berganti pakaian karena pakaian melambangkan pola, status dan perbedaan-perbedaan tertentu.

Pakaian menciptakan "batas" palsu yang tidak jarang menyebabkan "perpecahan" di antara manusia. Selanjutnya dari perpecahan itu timbul konsep "aku", bukan "kami atau kita", sehingga yang menonjol adalah kelompokku, kedudukanku, golonganku, sukuku, bangsaku dan sebagainya yang mengakibatkan munculnya sikap individualisme. Penonjolan "keakuan" adalah perilaku orang musyrik yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

“Artinya: Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta Dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka[1169] dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [QS. Ar-Ruum 31-32]

Mulai dari miqat mereka mengenakan pakaian yang sama yaitu kain kafan pembungkus mayat yang terdiri dari dua helai kain putih yang sederhana. Semua memakai pakaian seperti ini. Tidak ada bedanya antara yang kaya dan yang miskin, yang cukup makan dan yang kurang makan, yang dimuliakan dan yang dihinakan, yang bahagia dan yang sengsara, yang terhormat dan orang kebanyakan, yang berasal dari Barat dan yang berasal dari Timur, mereka memakai pakaian yang sama, berangkat pada waktu dan tempat yang sama dan akan bertemu pada waktu dan tempat yang sama pula. Mereka beraktifitas dengan aktivitas yang sama dan menggunakan kalimat yang sama.

"Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, akau penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuatan hanyalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu."

Manusia yang tadinya terpecah-pecah dalam berbagai ras, nation, kelompok, suku dan keluarga dengan ibadah haji dihimpun oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan berbagai faktor kesamaan agar mereka menjadi satu. Hal ini mengisyaratkan bahwa segala problematika umat Islam dapat terselesaikan secara mendasar jika setiap orang sadar akan diri di dalam islam dimana ucapan, sikap dan perbuatan sama yang membuat seluruh umat islam bersatu.

Kesatuan dan kebersamaan umat Islam akan terwujud apabila kita, di samping mampu menangkap makna ibadah haji, kita juga mampu menangkap makna ibadah qurban dan kita realisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mempersatukan umat Islam memang tugas besar dan berat oleh karena itu membutuhkan pengorbanan yang besar dan berat pula. Sebagaimana kita ketahui ibadah qurban ini bermula dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim agar menyembelih putranya semata wayang Nabi Ismail as.

Diriwayatkan oleh para ahli tarikh, bahwa kehidupan Nabi Ibrahim adalah kehidupan penuh dengan perjuangan, keterlunta-luntaan, jihad dan perang melawan kebodohan kaumnya, kefanatikan penyembah berhala termasuk ayahnya sendiri, penindasan Namrudz sedang istrinya sendiri Sarah, adalah seorang ningrat yang fanatik.

Sebagai seorang nabi yang menyerukan Tauhid, Ibrahim melaksanakan tugas berat dalam sebuah masyarakat yang tiran dan penuh perlawanan. Namun setelah seabad lamanya menanggungkan segala macam derita dan siksaan, ia berhasil menanamkan kesadaran ke dalam diri manusia-manusia akan cinta kemerdekaan dan keberagamaan.

Setelah tua Ibrahim menjadi kesepian. Sebagai manusia ia ingin mempunyai anak. Istrinya mandul sedang ia sendiri telah berusia seabad lebih. Ia tidak berpengharapan. Ia hanya dapat mendambakan. Allah akhirnya melimpahkan karunia-Nya kepada lelaki tua ini karena ia telah mengabdikan seluruh hidupnya dan karena ia telah menanggungkan penderitaan demi menyebarluaskan syari'at-Nya. Melalui hamba perempuannya yang hitam dari Ethiopia yang bernama Hajar, Dia mengaruniai Ibrahim dengan seorang putra, Ismail. Allah berfirman:

"Maka Kami gembirakan dia dengan seorang anak yang sangat penyantun" [QS. Ash-Shaffat: 101].

Ismail bukanlah hanya seorang putra bagi ayahnya. Ismail adalah buah dambaan Ibrahim seumur hidupnya. Sebagai seorang putra tunggal dari seorang lelaki tua yang telah menanggungkan penderitaan berkepanjangan, Ismail adalah yang paling dicintai oleh ayahnya. Namun tanpa diduga, Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, harapan dan dambaan hidupnya yang paling dicintai itu. Betapa goncang jiwa Ibrahim ketika menerima perintah ini. Setelah perintah itu ia sampaikan kepada anaknya dan anaknya menerimanya, akhirnya kedua hamba Allah ini pasrah melaksanakan perintah Allah ini. Allah menggambarkan peristiwa yang sangat dramatis ini dengan firman-Nya:

"Tatkala keduanya telah pasrah dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya. Dan Kami panggil dia. "Hai Ibrahim, kamu telah membenarkan mimpi (perintah) itu, sesungguhnya demikianlah Kami membalas kepada orang-orang yang berbuat baik" [QS. Ash-Shaffat: 102]

Kemudian Allah menebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar dan inilah yang diabadikan dengan syari'at qurban hingga saat ini. Jadi qurban adalah perlambang kesediaan seseorang untuk mengorbankan sesuatu yang paling dicintai dalam rangka mengabdikan diri di jalan Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SMS Gratis