Bagi yang masuk ke blog ini melalui Search Engin dan tidak menemukan artikel yang di cari pada halaman ini maka dapat mencari pada arsip blog atau mengunakan fasilitas search yang ada di blog ini. terimakasih atas kunjungnnya.
bagi yang ingin bertanya sebaiknya langsng melalui YM apabila lagi online atau inggalkan coment di artikel yang bersangutan.

Promo : Transfer Pulsa Indosat (IM3/Mentari/StarOne) pulsa 100rb Harga 82rb (bisa untuk BB)

bagi yang berminat dapat hubungin YM : ivandriyandra atau sms ke no 085624060651. atau data update dapat liat di halaman ini http://indosat.yandra.web.id/

28 Juli 2009

REORIENTASI MATERI DAN METODE PEMBELAJARAN MATAKULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

Prof. Dr. Dedi Mulyasana, M.Pd.

Diberikan pada acara Semiloka Nasional Pengembangan Karakter Bangsa, 28-30 Juli 2009

Universitas Widyatama Bandung

untuk file pdf nya dapat di donload di sini

Pendidikan

Pendidikan pada hakikatnya adalah proses pematangan kualitas peserta didik (mahasiswa) agar mereka dapat memahami apa arti dan hakikat hidup, serta bagaimana melaksanakan tugas hidup dan kehidupan secara benar dan cerdas. Untuk menjabarkan hakikat tersebut, pendidikan dikembangkan dalam proses pembelajaran. Dalam pengertian ini pendidikan diartikan sebagai proses pembebasan manusia dari ketidakmampuan, ketidak-berdayaan, ketidak-benaran, ketidak-jujuran, dan dari buruknya akhlak dan keimanan. Dengan demikian, pendidikan berfungsi sebagai alat hidup ketika manusia hidup, dan sebagai pendamping serta penyelamat hidup setalah manusia mati.

Dalam arti hakiki, pendidikan bukanlah konsep yang terbentuk atas struktur fisik, namun merupakan perangkat yang terbangun atas struktur psikis. Karena itu, membangun pendidikan bukan dilakukan dengan cara menertibkan tangan, kaki, mata, telinga atau tubuh semata. Mengembangkan pendidikan dilakukan dengan cara membangun kesadaran, spirit, motivasi, kepercayaan diri, tanggung jawab, dan budaya mutu. Oleh karena itu, yang perlu mendapatkan perhatian dalam pendidikan adalah proses pematangan kualitas logika, hati nurani dan keimanan. Karena baik-buruknya sikap, pemikiran dan perilaku manusia akan tergantung pada kualitas logika, kematangan hati nurani dan keimanan.

Problematika

Memperhatikan realita penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, ada beberapa komponen yang perlu mendapatkan perhatian secara sungguh-sungguh. Komponen-komponen tersebut antara lain:

1) Sumber daya pendidikan. Sumber daya ini masih sangat lemah untuk mendukung tercapainya tujuan dan target pendidikan.

2) System perkuliahan selain masih menekankan pada unsur kognitif, juga system tersebut lebih menghargai angka dan ijasah daripada kepamampuan mahasiswa. Demikian halnya dengan system evaluasi yang mengukur semua kemampuan mahasiswa dengan angka-angka.

3) Masih lemahnya budaya belajar di kalangan mahasiswa, khususnya yang berhubungan dengan motivasi, spirit, tingkat kepercayaan diri, disiplin dan tanggungjawabnya sebagai seorang pencari ilmu;

4) Kultur dan kinerja tenaga pengajar belum mampu menjawab tujuan pendidikan dan target pembelajaran;

5) Sarana dan prasarana belajar masih sangat lemah untuk mendukung tercapainya hasil belajar yang bermutu.

6) Manajemen pendidikan lebih menekan pada sesuatu yang bersifat administrative daripada membangun budaya belajar

Namun demikian dari sekian banyak permasalahan yang berhubungan dengan penyelenggaraan perkuliahan, permasalahan pokok yang harus segera mendapatkan perhatian secara sungguh-sungguh adalah peningkatan profesionalisme dosen dan budaya belajar para mahasiswa. Yang dianggap lemah dari profesionalisme tersebut umumnya menyangkut kinerja, penguasaan materi dan metode mengajar yang efektif.

Lemahnya kemampuan dosen dalam menguasai dan menerapkan metode pembelajaran yang efektif berakibat pada mutu belajar dan mutu lulusan, padahal ukuran penilaian keberhasilan pembelajaran pada akhirnya akan dilihat dari mutu belajar dan mutu lulusan. Artinya, sehebat apapun gedung perkuliahan, sarana dan prasarana belajar, dan sebanyak apapun gelar para dosen, kalau mutu belajar dan mutu lulusannya jelek, maka masyarakat tidak akan melihat gedung, sarana dan gelar para dosennya.

Permasalahan tersebut akan terus berkembang selama system dan orientasi pembelajaran belum diubah. Sekalipun demikian, para penyelenggara pendidikan dapat melakukan jalan pintas dengan cara memperkuat para dosen dengan dua kemampuan dasar, yaitu kemampuan dalam menguasai materi ajar dan kemampuan dalam menguasai dan mengaplikasikan metode perkuliahan yang efektif. Selain itu, salah satu kunci untuk mengatasi masalah tersebut antara lain : ketulusan, komitmen dan kepedulian dosen dalam mengembangkan tugas pembelajaran

Reorientasi Materi Kuliah Pengembangan Kepribadian

Sejalan dengan berkembangnya tuntutan perubahan dan tuntutan masa depan yang kian mewarnai dinamika kehidupan masyarakat Indonesia, maka sudah saatnya dipikirkan kembali materi perkuliahan Pengembangan Kepribadian sebagaimana tertuang dalam Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas Nomor 43/DIKTI/Kep/2006 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.

Dalam rangka mengembangkan reorientasi materi perkuliahan Pengembangan Kepribadian, di bawah ini Penulis menawarkan materi yang dipandang lebih aplikatif dan lebih bermanfaat dalam pembentukan kepribadian mahasiswa. Materi tersebut antara lain:

1. Pendidikan Agama :

a. Orientasi : Menjadi ilmuwan dan professional yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan YME, berakhlak mulia, dan memiliki etos kerja, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan.

b. Usulan Materi Perkuliahan :

1) Ilmuwan Profesional yg Beriman dan Bertakwa thd Tuhan YME

(a) Prinsip profesionalisme dalam pandangan agama

- Profesionalisme berbasis iman, ilmu dan amal

- Prinsip-prinsip dan pengembangan profesionalisme dan budaya mutu dalam pandangan agama

- Agama, budaya belajar, dan penataan kinerja professional

- Membangun manusia yang cerdas, bermartabat dan bermanfaat di tengah tuntutan perubahan dan tantangan masa depan

(b) Membentuk manusia yang beriman dan bertakwa

- Tujuan dan hakikat hidup manusia menurut pandangan agama

- Menata jalan hidup yang benar dan berkesimbangan dengan menghindari kemungkaran dan dosa.

- Menumbuhkan sikap takut dan perasaan selalu diawasi oleh Yang Maha Kuasa sebagai inti keimanan

2) Berakhlak mulia :

- Menumbuhkan budaya malu dan perasaan dosa

- Membangun nilai-nilai kesantunan, persaudaraan, dan kemanusiaan.

- Menata orientasi hidup dengan membangun nilai-nilai keteladanan dan kebermanfaatan.

- Melatih kejujuran, keadilan, dan keikhlasan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

- Melatih sikap saling menghargai, bergotong royong, kekeluargaan dan bekerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

- Meningkatkan kualitas ibadat secara benar

2. Pendidikan Kewarganegaraan

a. Orientasi

Membentuk warga Negara yang baik (good citizenshif) dengan membangun civics knowledge dan civics skills dalam rangka memperkuat nasionalisme, kehormatan dan harga diri bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945

b. Materi Perkuliahan

1) Good Citizenshif

(a) Hakikat dan prinsip-prinsip warga Negara yang baik

(b) Pengetahuan Kewarganegaraan (Civics Knowledge)

(c) Kemampuan menganalisis dan mengamalkan hak dan kewajiban warga Negara menurut UUD 1945

(d) Pengenalan Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan RI

(e) Warga negara, politik dan pemerintahan

2) Nasionalisme

(a) Identitas Nasional, Persatuan Bangsa dan Kesatuan Wilayah NKRI

(b) Problematika pengamalan nilai-nilai kebangsaan

(c) Nasionalisme dan Pembangunan Watak Bangsa

(d) Membangun Kehormatan dan Harga Diri Bangsa

3) Pancasila, UUD 1945 dan Prinsip-Prinsip NKRI

(a) Pancasila dan Prinsip Dasar Konstitusi

(b) Mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernagara

(c) Good governance dan Clean government dalam rangka penegakan prinsip-prinsip NKRI

(d) Demokratisasi, kekuasaan, hukum dan Hak Asasi Manusia

(e) Penataan politik dan kebebasan dalam mempersiapkan masa depan bangsa yang lebih adil, sejahtera dan manusiawi

4) Kecakapan dan keterampilan mengamalkan prinsip-prinsip kewarganegaraan (Civics Skills)

(a) Kemampuan mengidentifikasi dan menganalisis potensi, masalah dan kecenderungan masa depan bangsa

(b) Kemampuan mengidentifikasi dan menjelaskan tentang sebab-sebab, hakikat, masalah, dan makna dibalik peristiwa actual yang berkembang di Indonesia

(c) Kemampuan menyusun alternative dan argumentasi baru dalam merespons masalah-masalah kritis di Indonesia

(d) Kemampuan bekerjasama dan berpartisipasi dalam pengemabilan keputusan dan kebijakan

(e) Kemampuan mengelola konflik, melakukan diplomasi politik, negosiasi, kompromi dan mencari konsensus.

Reorientasi dan Pengembangan Metode Pembelajaran

Reorientasi

Memperhatikan misi kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), maka orientasi metode pembelajaran Matakuliah Pengembangan Kepribadian diarahkan pada pembentukan spirit, motivasi, dan budaya belajar yang mampu menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan, kemanusiaan, kesantunan, demokratisasi, disiplin, dan tanggung jawab dirinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pengembangan Metode Pembelajaran

Proses Pembelajaran hakekatnya membantu kesulitan belajar para mahasiswa agar mereka dapat melakukan proses pematangan kualitas dirinya secara efektif sesuai dengan tingkat kemampuan, karakteristik dan budaya belajarnya. Hal ini mengandung makna, bahwa tugas para dosen dalam proses pembelajaran adalah mengemas materi pembelajaran sesuai dengan minat, bakat, kebutuhan, dan tingkat kemampuan para mahasiswa.

Sebaik-baiknya materi perluliahan, tidak akan mampu mendorong tumbuhnya manusia-manusia yang matang dan berkualitas, apabila proses perkuliahannya tidak menggunakan metode mengajar yang efektifk. Karena itu, dalam penyelenggaraan perkuliahan, setiap dosen dituntut memliki dua kemampuan dasar, yakni kemampuan menguasai materi perkuliahan dan kemampuan mengembangkan metode mengajar secara efektif.

Metode mengajar yang baik, selain harus mampu merangsang minat, kebutuhan, dan kemampuan belajar mahasiswa, juga harus dapat menciptakan iklim kelas yang dinamis, menarik, dan mampu memotivasi tumbuhnya daya kritis di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, mengajar bukan mendemonstrasikan kemampuan dosen dihadapan para mahasiswa, tapi membantu memotivasi daya kritis para mahasiswa sehingga mereka dapat mengemukakan gagasan-gagasan kritis dan gagasan alternatifnya dalam menyoroti materi perkuliahan.

Dalam konteks ini, dosen tidak menempatkan dirinya sebagai penguasa kelas yang mengklaim nilai-nilai kebenaran. Dalam pengertian ini, tugas pokok dosen bukan mentransfer sejumlah informasi, konsep, ilmu dan teori semata, tapi tugas pokok dosen adalah sebagai pelayan belajar yang bertugas membantu kesulitan belajar para mahasiswa dalam konsep dan jati diri, serta dalam melakukan proses kematangan kualitas dirinya.

Di bawah ini dikemukakan beberapa konsep yang berhubungan dengan pengembangan metode dan strategi pembelajaran:

a. Efektivitas penggunaan metode mengajar dipengaruhi oleh kondisi mahasiswa, iklim kelas, karakteristik dan kemampuan mahasiswa. Dengan demikian, untuk mengembangkan metode pembelajaran yang efektif, perlu dilakukan upaya untuk mensinergikan beragamnya potensi/kemampuan, minat, karakteristik, pengalaman, kebutuhan, kebiasaan, masalah, gaya dan kecepatan belajar mahasiswa

b. Dengan pola tersebut, para dosen dapat menjawab bagaimana memahami dan menghadapi karakteristik mahasiswa yang temperamental, masabodoh, pendiam, pemalu, tidak mau diatur, tidak menyenangi dosen, dan tidak menyenangi pelajaran ? bagaimana menumbuhkan sikap percaya diri di kalangan para mahasiswa yang pendiam dan pemalu ? Juga bagaimana membangun sikap yang menyenangkan bagi semua mahasiswa, dan sebagainya

c. Kunci dari segala prestasi pembelajaran adalah terciptanya budaya belajar – budaya baca di kalangan dosen dan para mahasiswa. Oleh karena itu, untuk mencapai prestasi terbaik, dosen mengembangkan metode pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi, spirit, kepercayaan diri, dan kreativitas belajar sehingga terbentuk budaya belajar-budaya baca yang di kalangan para mahasiswa. Terciptanya iklim yang demikian, jauh lebih penting dari sekedar melakukan transfer teori, ilmu pengetahuan, dan sejumlah informasi kepada para mahasiswa.

d. Pengembangan metodologi pembelajaran dilakukan secara professional dengan menetapkan perencanaan yang baik, tujuan yang jelas dan terukur hasilnya. Dengan demikian, materi perkuliahan harus dapat dikemas menjadi paket yang terstruktur secara jelas. Untuk mengaplikasikan paket tersebut, para dosen berupaya untuk dapat menciptakan suasana perkuliahan yang menarik dan menyenangkan. Untuk menciptakan suasana tersebut, sedapat mungkin dihindari pengaturan kelas yang menggunakan pendekatan tekanan, ancaman dan hukuman, serta lebih mengutamakan pendekatan pemberian gajaran (reward) dan penguatan (reinforcemen).

e. Dosen bukanlah penguasa kelas yang hanya mencari-cari kesalahan mahasiswa, dan bukan model yang hanya mendemonstrasikan kemampuannya, tapi dosen bereparan sebagai pelayan belajar yang bertugas membantu kesulitan belajar para mahasiswa dalam melakukan proses pematangan kualitas dirinya. Oleh karena itu, dosen harus memerankan dirinya sebagai juru masak (koki) yang baik. Para dosen harus mampu meracik ramuan makanan yang menarik dan lezat untuk dinikmati. Sebagai koki, harus mampu meracik bumbu dan mengolah masakan yang lezat dan menarik selera

f. Dosen tidak menggunakan dirinya sebagai satu-satunya kekuatan dalam proses pembelajaran, karena dosen sebagai manusia mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal. Ketika dalam keadan lelah, sakit atau emosi sedang terganggu, tentu kualitas pembelajaranpun akan terganggu. Kondisi yang demikian selain akan mengganggu pada penerapan kualitas metode, juga akan berdampak pada hasil pembelajaran.

g. Penataan kelas yang nyaman, menarik dan menyenangkan, dapat menumbuhkan motivasi dan spirit belajar. Oleh karena itu, proses pembelajaran mesti didukung oleh lingkungan kelas yang bersih dan menarik dan didukung oleh laboratorium, perpustakaan, taman belajar, kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait yang diperkirakan dapat membantu meningkatkan kemampuan para mahasiswa.

h. Metode mengajar bersifat khas dan dibatasi oleh ruang dan waktu. Karena itu, metode mengajar yang dianggap efektif di pagi hari, tidak akan menghasilkan mutu yang sama sekalipun diterapkan di kelas yang sama dalam waktu yang berbeda. Dengan demikian, metode mengajar harus terus menerus dikembangkan secara dinamis sesuai dengan kondisi para mahasiswa dan iklim kelas. Karena itu, efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh berubahnya kondisi mahasiswa, suasana belajar dan iklim kelas.

i. Salah satu langkah efektif untuk membangun spirit, motivasi, kreativitas dan tingkat kepercayaan diri di kalangan mahasiswa antara lain, dengan cara menempatkan mahasiswa sebagai sosok yang penting dan berharga, dan melakukan metode yang menekankan pada kecintaan, perhatian dan kasih sayang. Karena itu, dosen tidak menempatkan mereka sebagai sosok yang selalu dicurigai, dan diawasi secara terus menerus, tapi diberi ruang dan kepercayaan untuk mengembangkan proses dan kualitas dirinya. Prinsip ini mengisaratkan bahwa dosen tidak mematikan semangat, kreativitas, kehormatan dan kepercayaan dirinya.

j. Penggunaan variasi model dalam perkuliahan sangatlah membantu menciptakan iklim belajar yang menarik. Para dosen dapat menggabungkan system pembelajaran yang bersifat klasikal dengan pola belajar individual melalui pola belajar tuntas (mastery learning). Intinya guru harus menciptakan suasana belajar yang menarik, dan menyenangkan dalam suasana belajar yang terbuka, demokratis dan manusiawi.

k. Ukuran keberhasilan pembelajaran adalah meningkatnya kematangan wawasan, kepribadian dan keterampilan para mahasiswa, dalam arti bukan hanya sekedar simbol nilai dalam bentuk angka-angka. Yang terjadi di lapangan adalah kesalahan orientasi dimana banyak mahasiswa yang hanya mengejar angka dan ijazah daripada mengembangkan kualitas dirinya. Akibatnya ada diantara mahasiswa yang “menghalalkan” berbagai cara untuk memperoleh nilai angka dan ijazah. Nyontek dan “membeli” ijazahpun akan dinyatakan “halal” demi pengakuan prestasi tersebut. Kondisi yang demikian akan merusak tatanan pembelajaran. Dengan demikian, materi dan metode apapun yang digunakan oleh dosen tidak menjamin dapat menciptakan proses pematangan kualitas diri mahasiswa.

l. Sisem evaluasi pembelajaran perlu ditinjau kembali, sehingga tidak semua materi perkuliahan dinilai dengan menggunakan angka-angka. Nilai-nilai kemanusiaan, kesantunan, kasih sayang, sikap hormat dan lain sebagainya, tidak dapat dinilai dengan angka-angka. Kesalahan dalam melakukan penilaian berpengaruh terhadap penggunaan metode pembelajaran. Jadi tidak semua materi kuliah dinilai dengan angka-angka.

m. Philip R. Wallace (1992: 13) membagi pendekatan pembelajaran ke dalam dua bagian: pertama, pendekatan konservatif (conservative approaches) dan kedua pendekatan liberal (liberal approach). Pendekatan konservatif memandang bahwa proses pembelajaran yang dilakukan sebagai mana umumnya para dosen mengajarkan materi kepada para mahasiswa. Dosen mentransfer ilmu pengetahuan kepada para mahasiswa, dan para mahasiswa hanya sebagai penerima. Sedangkan pendekatan liberal (liberal approaches) adalah pendekatan pembelajaran yang memberi kesempatan luas kepada para mahasiswa untuk mengembangkan strategi dan keterampilan belajarnya sendiri. Pendekatan yang kedua inilah yang harus terus dikembangkan dalam proses pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi


Konsep dan Langkah Pengembangan

Alvin C. Eurich dari Ford Foundation (Ivor K. Davies, 1991: Pengelolaan Belajar), menyebutkan bahwa, Prinsip-prinsip belajar meliputi:

1) Hal apa pun yang dipelajari oleh para mahasiswa, maka ia harus mempelajarinya sendiri; Tidak ada seorang pun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya. Jadi belajar tidak diwakilkan.

2) Setiap mahasiswa belajar menurut tingkat kemampuan dan tempo (kecepatannya) sendiri, dan untuk setiap kelompok umur, terdapat variasi dalam kecepatan belajar.

3) Setiap mahasiswa akan akan meningkatkan daya belajar seiring dengan diterimanya reward dan reinforcement dari para dosen.

4) Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti. (Proses belajar akan memberikan arti, bila adanya penguasaan secara penuh dan menyeluruh )

5) Apabila para mahasiswa diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka motivasi belajarnya akan meningkat; ia akan belajar dan mengingat secara lebih baik.

Sejalan dengan itu, Gagne mengungkapkan pandangannya tentang kondisi Intruksional yang harus diperhatikan, antara lain :

1) Para pendidik melakukan langkah untuk mendapatkan perhatian (Gaining attention ) para mahasiswa sebelum perkuliahan dimulai

2) Menginformasikan tentang tujuan perkuliahan kepada para mahasiswa

3) Dalam membuka perkuliahan, dosen memberikan stimulus untuk merangsang tumbuhnya kemampuan dasar dari para mahasiswa

4) Menyajikan materi baru (Present new material ) yang lebih menarik dan menantang untuk didiskusikan

5) Menindaklanjuti proses perkuliahan dengan melakukan pembimbingan;

6) Merangsang tumbuhnya tindakan dan tampilan diri

7) Siap memberikan umpan balik langsung terhadap hasil yang baik

8) Menilai hasil belajar yang ditunjukan

9) Meningkatkan proses penyimpanan memori dan mengingat

Sedangkan dalam pandangan Behavioristik bahwa, proses pembelajaran dikembangkan sebagai berikut:

1) Dosen menyusun bahan perkuliahan secara matang (siap saji) sehingga tujuan pembelajaran yang akan disampaikan dipahami secara utuh oleh para peserta didik.

2) Dosen tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik contoh konkrit maupun contoh dalam bentuk simulasi

3) Dosen menyusun bahan ajar secara hierarki dari mulai yang sederhana sampai yang kompleks

4) Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati

5) Kesalahan guru sekecil apapun harus segera diperbaiki, karena itu setiap dosen perlu melakukan evaluasi diri pada setiap akhir pembelajaran.

6) Dosen selalu mengulangi materi ajar yg diberikan dan sekaligus mengadakan latihan, sehingga terbentuk kebiasaan belajar yang baik.

7) Evaulasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak secara objektif.

Penutup

Sebaik-baiknya materi ajar, tidak akan mampu mencapai tujuan dan target pembelajaran apabila tidak didukung oleh metode mengajar yang baik. Karena itu, setiap guru dituntut memliki dua kemampuan dasar, yakni kemampuan menguasai materi perkuliahan dan kemampuan mengembangkan metode mengajar secara efektif.

Metode mengajar yang baik, selain mampu merangsang minat, kebutuhan, dan kemampuan belajar peserta didik, juga mampu menciptakan iklim kelas yang dinamis, menarik, dan mampu memotivasi tumbuhnya daya kritis di kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, mengajar bukan mendemonstrasikan kemampuan guru dihadapan para peserta didik, tapi membantu memotivasi daya kritisnya sehingga mereka dapat mengemukakan gagasan-gagasan kritis dan gagasan alternatifnya dalam menyoroti materi perkuliahan.

Untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang efektif, perlu diperhatikan dan diberdayakan kondisi dan karakteristik peserta didik, lingkungan belajar dan iklim kelas, serta sarana dan sumber daya belajar.

DAFTAR BACAAN

Davies, Ivor K, (1991), The Management of Learning, McGraw-hill Book

Dedi Mulyasana, (2006) Strategi Pengembangan Pendidikan, Universitas Islam Nusantara, Bandung

______(2008), Strategi Pembelajaran di Perguruan Tinggi, Uninus, Bandung.

______(2006), Pancasila, UUD 1945 dan Pendidikan Kewarganegaraan, Uninus, Bandung

______(2006), Konsep dan Strategi Politik – Mengoptimalkan Daya Saing, Universitas Islam Nusantara Press, Bandung

______(2008), Strategi Pembelajaran di Perguruan Tinggi, Uninus, Bandung.

Joyce, Bruce, (1986), Models of Teaching, Prentice-Hall,Inc.,Englewood Cliffs, New Jersey.

Harepa, Andrias, (2000), Menjadi Manusia Pembelajar, Penerbit Harian Kompas, Jakarta

House, Ernest R., (1974), The Political of Educational Innovation, McCuthan Publishing Corporation, USA.

Husen, Torsten (1988), Masyarakat Belajar, Rajawali, Jakarta

Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas Nomor: 43/Dikti/Kep/2006 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi

Soegito, HAT, (2001) Nasionalisme Indonesia (Pengertian dan Perkembangan), Jakarta.

Siswomahardjo, Koento Wibisono, (2002), Wawasan Kebangsaan dalam Era Reformasi, Jakarta.

Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan RI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SMS Gratis